Personal Blog @Fernanda Petrova, Blog yang membahas tentang Jenis Kain tradisional Nusantara

Sunday, October 1, 2023

KAIN TRADISIONAL JAWA JARIK SIDO ASIH

 

Hallo Sobat Fernanda, semoga kita selalu di berikan kesehatan, keberkahan dan kelancaran. Kali ini Fernanda akan mengulas tentang Jarik Sido Asih. Berikut ulasannya.


Jarik Sido Asih memiliki karakteristik pola semen yang berasal dari kata semi. Jarik ini bermuatan gambar tumbuhan atau gunung yang merupakan tempat berseminya tanaman. Selain itu juga ada ornamen tangkai tanaman, kuncup bunga, dedaunan dan bahkan bunga. Secara filosofi, sido asih ini memiliki artian pengharapan manusia akan kehidupan yang penuh kasih sayang. Jarik ini berasal dari Yogyakarta dan Surakarta. Sido Asih yang berasal dari Yogyakarta biasanya digunakan oleh pengantin perempuan saat memasuki malam midodareni. 

Motif ini berupa geometris segi empat berwarna coklat. banyak mengandung doa agar kehidupan rumah tangganya selalu dipenuhi kasih sayang, harmonis dan saling mencintai. Pemakaian jarik ini pada era kerajaan atau keraton digunakan oleh putri raja yang akan menjadi pengantin. Begitu juga dengan zaman sekarang, jarik ini digunakan oleh kalangan mana saja yang akan menjadi pengantin. Jarik sendiri merupakan lembaran kain yang di ikat atau tanpa membutuhkan jahitan

Demikian sobat Fernanda ulasan tentang tersebut diatas. Fernanda yakin bahasan ini jauh dari sempurna, dan fernanda harap sobat fernanda dapat menyempurnakannya dengan memberikan komentar kritik dan saran yang membangun atas bahasan ini. Sampai bertemu kembali sobat fernanda di postingan Fernanda yang akan datang. Salam Sehat dan Salam Sukses Selalu, Semoga Kita Semua selalu di berikan kemudahan dan kelancaran, Amin.
Share:

KEINDAHAN KAIN TRADISIONAL MATARAM KAIN JARIK SIDO LUHUR

 

Hallo Sobat Fernanda, semoga kita selalu di berikan kesehatan, keberkahan dan kelancaran. Kali ini Fernanda akan mengulas tentang Jarik Sido Luhur. Berikut ulasannya.


Jarik Sido Luhur diciptakan oleh Ki Ageng Henis, kakek dari Panembahan Senopati yaitu pendiri Mataram Jawa serta cucu dari Ki Ageng Selo. Menurut cerita, motif jarik ini dibuat untuk anak keturunannya. Dengan harapan agar pemakainya dapat berhati serta berpikir luhur sehingga dapat berguna bagi masyarakat di sekelilingnya.

Jarik ini merupakan jarik keraton yang berkembang di Yogyakarta maupun Surakarta. Motif yang terkandung dalam jarik ini adalah mengenai keluhuran karena pada umumnya orang jawa ketika menjalani kehidupan mencari keluhuran baik materi maupun non materi. Jarik ini biasanya digunakan oleh pengantin putri pada malam pengantin.

Demikian sobat Fernanda ulasan tentang tersebut diatas. Fernanda yakin bahasan ini jauh dari sempurna, dan fernanda harap sobat fernanda dapat menyempurnakannya dengan memberikan komentar kritik dan saran yang membangun atas bahasan ini. Sampai bertemu kembali sobat fernanda di postingan Fernanda yang akan datang. Salam Sehat dan Salam Sukses Selalu, Semoga Kita Semua selalu di berikan kemudahan dan kelancaran, Amin.

Share:

SENTUHAN ALAM KAIN TRADISIONAL SOLO KAIN SEKAR JAGAD

Hallo Sobat Fernanda, semoga kita selalu di berikan kesehatan, keberkahan dan kelancaran. Kali ini Fernanda akan mengulas tentang Jarik Sekar Jagad. Berikut ulasannya.


Jarik Sekar Jagad dikenal di kalangan daerah Jogja dan Solo dengan ciri khas berwarna coklat sogan. Ciri khas jarik ini ada pada garis-garis lengkung menyerupai bentuk pulau yang berdampingan satu sama lain. Motifnya tidak beraturan dan ditandai dengan adanya isen-isen artinya berasal dari kata isi , dimana bentuk pulau tersebut memiliki beragam motif seperti kawung, truntum, lereng, flora fauna dan lainnya. Namun seiring dengan perkembangan zaman, jarik ini meluas ke daerah lain hingga Madura dan Bali. Masing-masing daerah memberikan kekhasannya baik dari motif maupun warnanya.

Demikian sobat Fernanda ulasan tentang tersebut diatas. Fernanda yakin bahasan ini jauh dari sempurna, dan fernanda harap sobat fernanda dapat menyempurnakannya dengan memberikan komentar kritik dan saran yang membangun atas bahasan ini. Sampai bertemu kembali sobat fernanda di postingan Fernanda yang akan datang. Salam Sehat dan Salam Sukses Selalu, Semoga Kita Semua selalu di berikan kemudahan dan kelancaran, Amin.

Share:

JARIK KLASIK TRADISIONAL JAWA SIDO MULYO


Hallo Sobat Fernanda, semoga kita selalu di berikan kesehatan, keberkahan dan kelancaran. Kali ini Fernanda akan mengulas tentang Jarik Sido Mulyo. Berikut ulasannya.


Dahulunya jarik ini merupakan salah satu motif klasik yang khusus dipergunakan mempelai wanita dalam pernikahan keturunan raja dan bangsawan di Jawa. Jarik ini melambangkan harapan baik agar penggunanya mendapatkan kemulian, keluarga yang harmonis dan status sosial yang dihormati. Namun dengan perkembangnya zaman, jarik ini bisa digunakan oleh siapapun. Motif jarik ini mempunyai warna khas yaitu berlatar putih yang berlatar belakang berupa bidang-bidang geometris dan diisi antara lain motif garuda, bangunan, kupu-kupu, pohon hayat. 

Demikian sobat Fernanda ulasan tentang tersebut diatas. Fernanda yakin bahasan ini jauh dari sempurna, dan fernanda harap sobat fernanda dapat menyempurnakannya dengan memberikan komentar kritik dan saran yang membangun atas bahasan ini. Sampai bertemu kembali sobat fernanda di postingan Fernanda yang akan datang. Salam Sehat dan Salam Sukses Selalu, Semoga Kita Semua selalu di berikan kemudahan dan kelancaran, Amin.

Share:

SENTUHAN FLORA FAUNA DALAM KAIN JARIK SIDOMUKTI


Hallo Sobat Fernanda, semoga kita selalu di berikan kesehatan, keberkahan dan kelancaran. Kali ini Fernanda akan mengulas tentang Jarik Sidomukti. Berikut ulasannya.

Konon untuk motif ini sudah ada sejak zaman Paku Buwono IV. Motif ini dimodifikasi dari motif Sidomulyo yang  sudah ada pada zaman Mataram Kartasura. Modifikasi yang dimaksud adalah dengan memasukkan unsur latar ukel, ornamen sawut  dan cecekan pada bagian dalammya. Penggunaan Jarik Sidomukti seringkali dipakai oleh calon pengatin dalam acara lamaran, siraman, ijab qobul atau resepsi. Dengan harapan agar pengantin akan mendapatkan kebahagiaan lahir batin, kesuksesan, kemuliaan dan kesejahteraan.

Motif Jarik Sidomukti ini memiliki kesamaan dengan motif sidomulyo dan sidoluhur. Bedanya sidomukti lebih rumit dengan isen titik tiki dan ukel. Sidomulyo mempunyai latar belakang warna putih untuk gagrak Jogja atau coklat soga untuk gagrak Solo. Ornamen yang ada di Sidomukti beraneka ragam. Seperti ornamen kupu-kupu, singgasana atau tahta, bunga, gunung atau meru, isen-isen sebagai pelengkap. Ornamen kupu-kupu mempunyai makna pembebasan, pencerahan ataupun puncak dari kesempurnaan. Ornamen Singgasana bermakna harapan manusia untuk dapat meningkatkan derajatnya lebih baik , menjadi mulia dan dihormati orang lain. Ornamen bunga menggambarkan kecantikan dan keindahan . Ornamen meru atau gunung melambangkan sikap para suci dan dewa yang mampu mengendalikan hawa nafsu. Seta ornamen isen-isen yang berupa titik-titik dan garis yang berfungsi sebagai pengisi ruang kosong di antara ornamen utama.

Demikian sobat Fernanda ulasan tentang tersebut diatas. Fernanda yakin bahasan ini jauh dari sempurna, dan fernanda harap sobat fernanda dapat menyempurnakannya dengan memberikan komentar kritik dan saran yang membangun atas bahasan ini. Sampai bertemu kembali sobat fernanda di postingan Fernanda yang akan datang. Salam Sehat dan Salam Sukses Selalu, Semoga Kita Semua selalu di berikan kemudahan dan kelancaran, Amin.

Share:

ARTI, JENIS DAN MOTIF KAIN JARIK TRADISIONAL NUSANTARA


Hallo Sobat Fernanda, semoga kita selalu di berikan kesehatan, keberkahan dan kelancaran. Kali ini Fernanda akan mengulas tentang Jarik. Berikut ulasannya.


Jarik yang artinya Ojo gampang sirik dalam bahasa Jawa nya yang artinya jangan mudah iri. Ada makna yang terkandung dalam jarik yaitu menanggapi segala masalah yang terjadi mesti berhati-hati. Jarik adalah jenis kain khas yang mempunyai motif batik dengan berbagai corak yang berasal dari Jawa, tepatnya dari jawa tengah dan jawa timur. Jarik yang akan digunakan sebagai bawahan berkebaya, sebelumnya diwiru ujungnya sedemikian rupa. Saat ini, penggunaan jarik bisa kita jumpai di acara pernikahan atau acara adat di keraton. Jarik bisa menggambarkan seseorang itu berasal dari mana karena setiap daerah memiliki ciri dan motif kain jarik masing-masing.

Dulunya, jarik digunakan sebagai bawahan sehari hari dengan kebaya sebagai atasannya, selain itu juga jarik digunakan sebagai gendongan dan alas tidur bayi. Hal ini karena sifat kain jarik yang adem atau dingin dan lembut sehingga cocok dengan kulit bayi. Selain itu juga jarik dipakai bagi perempuan yang baru melahirkan. Dalam bahasa Jawa disebut telesan yang artinya basahan.

Jarik memiliki beberapa motif, yaitu : 

Sidomukti

Sidomukti mempunyai arti yaitu sido dalam bahasa jawa artinya jadi dan mukti yang artinya mendapatkan kebahagian lahir batin, kesuksesan, kemuliaan dan kesejahteraan. Jarik ini menjadi jarik yang populer di kalangan masyarakat.

Sido Mulyo

Sidomulya mempunyai arti Sido artinya jadi dan mulyo artinya kemuliaan. Jarik ini berasal dari Surakarta, Jawa Tengah. Motif yang digunakan berawalan sida yang artinya berarti jadi.

Sekar Jagad

Sekar jagad memiliki arti cantik serta indah merupakan jarik yang berasal dari Yogyakarta. Jarik ini merupakan salah satu motif jarik batik yang memberikan kesan tentang peta dunia karena tampilannya yang mempesona

Sido Luhur

Jarik ini seringkali dipakai oleh mempelai wanita di malam sebelum mengadakan acara pernikahannya. Makna dari kain bermotif ini adalah mengharapkan pemakainya agar mencapai kedudukan yang tinggi sehingga dapat menjadi panutan bagi warga masyarakat yang ada.

Sido Asih

Arti dari sidoasih yaitu hidup rumah tangga yang akan dipenuhi dengan cinta dan penuh kasih sayang. Jarik ini biasanya digunakan oleh pasangan pengantin di adat Jawa

Demikian sobat Fernanda ulasan tentang tersebut diatas. Fernanda yakin bahasan ini jauh dari sempurna, dan fernanda harap sobat fernanda dapat menyempurnakannya dengan memberikan komentar kritik dan saran yang membangun atas bahasan ini. Sampai bertemu kembali sobat fernanda di postingan Fernanda yang akan datang. Salam Sehat dan Salam Sukses Selalu, Semoga Kita Semua selalu di berikan kemudahan dan kelancaran, Amin.

Share:

KERAGAMAN MOTIF TENUN ULOS SUMATERA UTARA

 


Hallo Sobat Fernanda, semoga kita selalu di berikan kesehatan, keberkahan dan kelancaran. Kali ini Fernanda akan mengulas tentang Baju Ulos Sumatra Utara. Berikut ulasannya.

Ulos merupakan busana turun temurun yang telah digunakan oleh masyarakat suku Batak, Sumatera Utara. Sama halnya dengan kain songket dalam pengerjaannya, Ulos menggunakan alat tenun tradisional dan bahan dasar Ulos adalah benang sutra. Kain Ulos umumnya memiliki motif yang berbeda-beda antara klain : kain ulos padang ursa, pinan lobu-lobu, pinuncaan, antak-antak, bintang marathi serta kain ulos boolean. Setiap jenis kain ulos akan dikenakan memiliki kegunaannya masing - masing. Ada tiga jenis Ulos yaitu:

Ulos Ragidup

Ulos ini memiliki derajat yang tinggi atau yang disebut dengan Ulos Nabalga, pembuatannya sangat sulit. Ragidup berarti lambang kehidupan. Oleh sebab itu setiap rumah tangga harus memilikinya. Ulos ini memiliki tiga bagaian yaitu : dua bagaian sisi ditenun sekaligus, sedangkan bagian tengahnya ditenun tersendiri.  


Ulos Ragi Hotang

Ulos ini juga termasuk berderajat tinggi dan dikenakan ketika sukacita, seperti upacara adat pernikahan. Ulos ini diberikan kepada pengantin baru dengan harapan agar memiliki ikatan batin.


Ulos Maratur.

Mempunyai motif garis-garis yang menggambarkan burung atau binatang-binatang yang tersusun teratur. Ulos ini diberikan kepada sukuran menempati rumah atau selamatan atas kelahiran anak pertama.


Namun saat ini, Ulos digunakan sebagai souvenir dengan tujuan agar dikenal oleh masyarakat luar Sumatera dan juga cara kita untuk melestarikan budaya.

Di Sumatera Barat , beberapa suku menggunakan Ulos sebagai baju tradisionalnya ;

1. Pakaian Adat Suku Batak Toba

Sesuai dengan namanya, suku Batak Toba bermukim di sekitar wilayah Danau Toba. Pakaian adat yang digunakan adalah kain hasil tenunan yang diberi nama Kain Ulos. Suku Batak Toba umumnya menggunakan benang dengan warna putih, hitam, emas, merah ataupun perak untuk membuat ulos. Pakaian adat pria dari Suku Batak toba , bagian atas pakaiannya disbut ampe-ampe sementara bagian bawahnya disebut dengan singkot.Sedangkan untuk perempuan , bagian atasnya disebut hoba-hoba dan bagian bawahnya disebut sebagai haen. Biasanya pakaian adat ini dilengkapi dengan aksesoris seperti penutup kepala yang disebut bulang-bulang sebagai pengikat kepala yang dikenakan oleh pria sementara untuk perempuan dilengkapi dengan selendang Ulos.

2. Pakaian Adat Suku Karo

Suku Toba memiliki kain ulos yang khas yaitu kain ulos yang terbuat dari pintalan kapas dan disebut dengan uis gara. Uis gara artinya adalah kain merah dikarenakan proses pembuatannya menggunakan benang berwarna merah. Warna merah ini dipadupadankan dengan warna benang yang lainnya seperti warna perak atau emas agar hasilnya terlihat menarik. Ada beberapa jenis kain uis gara yaitu :  Pakaian adat dengan kain uis beka buluh menyimbolkan kebesaran, pakaian uis gatip jongkit menyimbolkan kekuatan. 

Untuk pakaian pria, umumnya menggunakan jas dan dasi serta  dilengkapi dengan kain uis gara untuk dililitkan di sekitar badan. Selaian dililitkan di sekitar badan, kain uis gara juga digunakan sebagai penutup kepala yang dibentik menjulang ke arah atas. Penutup kepala ini melambangkan mengenai ketinggian dari budi luhur masyarakat suku Karo.

3. Pakaian Adat Suku Mandailing , Tapanuli Selatan Padang Lawas

Pakaian adat Suku Mandailing hampir sma bentuknya dengan suku Batak toba, dikarenakan Mandailing menggunakan kain ulos sebagai material bajunya. Bedanya pada aksesoris yang digunakan baik oleh pria maupun wanita. Aksesoris pada wanita Mandailing disebut bulang yaitu perhiasan yang dikenakan di kepala dan menjuntai hingga kening, aksesoris bulang ini terbuat dari logam serta sepuhan emas lainnya. Sedangkan aksesoris untuk pria disebut dengan Ampu. Ampu biasanya berwana hitam dan diberikan tambahan hiasan emas yang menyimbolkan kebesaran.

4. Pakaian Adat Suku Batak Angkola

Pakaian adat dari Suku Batak Angkola memiliki bentuk yang mirip dengan pakaian adat dari suku Batak Mandailing. Perbedaannya ada pada pakaian perempuan yang didominasi oleh warna merah dan mengenakan selendang yang diselempangkan di bagian badannya.

Demikian sobat Fernanda ulasan tentang tersebut diatas. Fernanda yakin bahasan ini jauh dari sempurna, dan fernanda harap sobat fernanda dapat menyempurnakannya dengan memberikan komentar kritik dan saran yang membangun atas bahasan ini. Sampai bertemu kembali sobat fernanda di postingan Fernanda yang akan datang. Salam Sehat dan Salam Sukses Selalu, Semoga Kita Semua selalu di berikan kemudahan dan kelancaran, Amin.

Share:

LIMPAPEH RUMAH NAN GADANG SUMATERA BARAT

 

Hallo Sobat Fernanda, semoga kita selalu di berikan kesehatan, keberkahan dan kelancaran. Kali ini Fernanda akan mengulas tentang BUNDO KANDUANG SUMATERA BARAT. Berikut ulasannya.

Bundo Kanduang atau yang dikenal di masyarakat Sumatera Barat dengan sebutan Limpapeh Rumah Nan Gadang. Limpapeh artinya tiang tengah dari bangunan rumah adat Sumatera Barat. Pakaian ini digunakan sebagai pakaian adat Minangkabau yang dikenakan oleh wanita yang telah menikah. Ciri khasnya yaitu penutup kepala yang berbentuk runcing dan bercabang menyerupai tanduk kerbau. Pemakaian tengkuluk sendiri digunakan sebagai perlambangan perempuan sebagai pemilik rumah gadang. Selain itu juga menggunakan baju kurung, kain salempang atau yang disebut dengan selendang, kain sarung serta perhiasan kalung dan anting. Kelengkapan baju bundo kanduang ini terbuat dari kain songket dan diletakkan di pundak pemakaianya. 

Bahan yang digunakan pada tengkuluk adalah kain songket hasil tenun yang tebal dan dipadukan dengan benang emas sebagai ciri khas Minangkabau. Baju batabue atau baju bertabur adalah baju kurung (naju) yang dihiasi dengan taburan pernik benang emas. Pernak pernik dengan sulaman emas tersebut melambangkan kekayaan alam ranah Minangkabau. Corak dari sulaman tersebut mempunyai 4 waran pada baju batabue yaitu merah, hitam, biru dan lembayung. Di bagian tepi lengan dan leher ada hiasan yang disebut minsie

Minsie merupakan sulaman yang menyimbolkan bahwa perempuan Minang harus taat pada batas-batas suku adat. Sarung Lambang merupakan bawahan pelengkap pakaian Bundo Kanduang. Sarung tersebut ada yang berupa songket, ada juga yang berikat. Sarung dikenakan untuk menutupi bagian bawah tubuh dengan cara diikat pada pinggang. Kain sarung adalah kain balapak bersulam benang emas, tenunan Pandai Sikat juga. Salempang yang digunakan adalah kain yang terbuat dari songket, berbentuk empat persegi panjang terbuat dari benang katun warna merah. Selain itu juga dilengkapi dengan aksesoris seperti gelang, kalung.

Demikian sobat Fernanda ulasan tentang tersebut diatas. Fernanda yakin bahasan ini jauh dari sempurna, dan fernanda harap sobat fernanda dapat menyempurnakannya dengan memberikan komentar kritik dan saran yang membangun atas bahasan ini. Sampai bertemu kembali sobat fernanda di postingan Fernanda yang akan datang. Salam Sehat dan Salam Sukses Selalu, Semoga Kita Semua selalu di berikan kemudahan dan kelancaran, Amin.

Share:

KEUNIKAN MOTIF PAKAIAN SANGKARUT KALIMANTAN TENGAH

 

Hallo Sobat Fernanda, semoga kita selalu di berikan kesehatan, keberkahan dan kelancaran. Kali ini Fernanda akan mengulas tentang Sangkarut Kalimantan Tengah Jenis dan Motifnya. Berikut ulasannya.


Sangka artinya pembatas, yang memiliki filosofi bahwa baju ini dapat membatasi dan menangkal setiap gangguan para roh halus yang akan datang pada pemakainya serta dipercaya dapat melindungi dari pengaruh orang jahat bagi pemakainya.

Baju Sangkarut atau yang dikenal dengan baju basulau dibuat oleh suku Dayak Ngaju yang bermukim di daerah Sungai Kapuas, Kalimantan Tengah. Baju Sangkarut merupakan pakaian rompi yang dilapisi oleh Sulau ( kerang ). Baju ini terbuat dari bahan yang mengandung serat daun nanas, serat daun lemba, serat tengang dan serat nyamu. Kulit nyamu atau kulit daun lemba merupakan kulit tumbuhan pinang puyuh yang banyak ditemukan di ekosistem hutan hujan tropis seperti di Kalimantan. 

Sangkarut dihiasi dengan lukisan dari cat alami seperti tempelan kulit trenggiling, manik-manik dan benda magic. Menurut sejarah, pada perang di Kuta Bataguh, kesatria Dayak Ngaju menggunakan pakaian ini dalam menghadapi serangan pasukan musuh dari Negeri Sawang.

Demikian sobat Fernanda ulasan tentang tersebut diatas. Fernanda yakin bahasan ini jauh dari sempurna, dan fernanda harap sobat fernanda dapat menyempurnakannya dengan memberikan komentar kritik dan saran yang membangun atas bahasan ini. Sampai bertemu kembali sobat fernanda di postingan Fernanda yang akan datang. Salam Sehat dan Salam Sukses Selalu, Semoga Kita Semua selalu di berikan kemudahan dan kelancaran, Amin.

Share:

Translate

Pages

Powered by Blogger.